Usaha para perokok untuk bisa meninggalkan barang yang menurut riset telah menelan banyak korban ini akan menjadi sangat sulit nampaknya. Rokok rasanya mungkin terlalu menggoda hingga tak mungkin untuk ditinggalkan bagi mereka yang sudah kecanduan. Bahkan walaupun pemerintah selalu mencantumkan peringatan mengenai bahaya merokok (seperti impotensi, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin, etc) dalam setiap kemasan-kemasan rokok, tapi rokok selalu terkuras habis dari produsen-produsennya. Apakah sensasi rokok lebih menggoda daripada ketakutan terhadap berbagai akibat yang bisa dideritanya?
Di sisi lain, manusia melalui teknologi-nya selalu ingin melakukan inovasi-inovasi produk baru yang diharapkan dapat memberikan solusi bagi masalah yang terjadi di bumi ini dan menjadikan kehidupan di bumi ini menjadi lebih baik, lebih mudah. Walaupun kadang kala teknologi yang berkembang adakalanya menimbulkan masalah baru.
Rokok elektronik atau yang lebih dikenal dengan sebutan E-cigarette adalah rokok jenis baru yang diharapkan dapat meminimalisir pengaruh-pengaruh buruk dari rokok-rokok konvensional. Rokok elektronik ini hanya mengandung nikotin dan propylene glycol saja. Coba bandingkan dengan rokok konvensional yang konon mengandung ratusan bahkan ribuan toxic yang ada di dalamnya.
Rokok elektronik ini memiliki 2 bagian utama, pertama adalah catridge yang merupakan wadah untuk menyimpan nikotin dan propylene glycol serta sedikit air dimana isinya ini dapat diisi ulang (refill), bagian kedua adalah mini baterai yang juga bisa diisi ulang. Yang jelas rokok jenis ini tidak menimbulkan asap (hanya berupa sedikit uap), tidak memerlukan korek tentunya untuk menyulut ujung rokok, tidak menimbulkan bau di baju, dan bisa dihisap dimana saja.
Lalu bagaimanakah cara kerja dari rokok elektronik ini?
Pertama : Ketika seseorang menghirup ujung rokok, maka air flow sensor akan mendeteksi adanya aliran udara di ujung rokok.
Kedua : Sensor ini kemudian akan memberitahukan microprosessor untuk melakukan berbagai aksi
Ketiga : Ketika microprocessor mendapat sinyal dari air flow sensor, maka device ini akan melakukan beberapa aksi, yaitu : mengaktifkan atomizer atau nebulizer untuk menyemprotkan campuran bahan yang ada di dalam catridge, termasuk menaburkan nikotin. Adapun penambahan propylene glycol yang dicampurkan ke dalam catridge ini adalah untuk membuat terciptanya uap/kabut yang hampir mirip dengan asap rokok konvensional. Aksi kedua yang dilanjutkan oleh si microprocessor adalah menyalakan LED (Light Emitting Diode) berwarna orange, supaya memberikan sensasi sebagaimana rokok terbakar ketika dihisap.
Masalah harga, rokok elektronik ini dibandrol dengan bervariasi. Mulai dari harga Rp. 600.000. kedip Dan refill sendirnya pun bervariasi, mulai dari variasi kandungan nikotin, sampai variasi kandungan bahan lainnya yang tentunya menambah sensari rasa rokok modern ini.
Huggh.... nampaknya mantap bukan? tapi saya rasa rokok jenis ini bisa menggeser rokok konvensional. Entahlah benar atau tidak, atau apakah sensasi bisa mengepul-ngepul asap hingga membentuk lingkaran asap rokok di udara lebih disukai dibandingkan hanya uap rokok elektronik
Kalau tahannya berapa lama saya juga tidak tau, tapi kalau tahan sampai 2 tahun dengan membeli Rp. 600.000 untung juga dari pada rokok konvensional. Sekarang coba sehari rata-rata orang ngerokok konvensional ngabisin berapa duit hayooo? Kaliin dengan 720 hari.
Bagaimana menurut Anda?
sumber : http://www.forumsains.com/teknik-elektro/apakah-rokok-elektronik-bisa-menggeser-rokok-konvensional/




Posting Komentar